24 Agustus 2010

Lantunan-lantunan Rumi



"Kematian terburuk adalah hidup tanpa cinta" (Rumi)




Tiada tuhan selain Allah

Cinta adalah nyala yang, ketika membara, menghanguskan segalanya kecuali Sang Kekasih.
Dia menggerakkan pedang "tiada Tuhan" untuk membantai "yang selain Tuhan"
Setelah "tiada Tuhan", apalagi yang tersisa?
Masih tertinggal "selain Allah," yang lain telah lenyap. Bagus, hebat, wahai Cinta yang membakar berhala.


Muliakanlah Orang-orang Suci

Karena bangga diri dan buta hati
Seperti Iblis, manusia-manusia ini tak lagi memuliakan orang suci
Katanya, “Bagi Tuhan saja, sujud kupersembahkan.”
Padanya Adam memberikan jawaban:
“Sujud kepadaku ini untuk-Nya
Kalian melihatnya berupa dua sujud
Karena ketersesatan dan keingkaran!”
(Rumi, Diwan i Syams 9605-9606)

Jangan kau seperti Iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika
memandang Adam. Lihatlah di balik lumpur,
beratus-ratus ribu taman yang indah!
(Rumi, Diwan i Syams 18226)


Kritik pada Filosof

Engkau menjadi seorang filosof tapi
engkau tidak tahu
siapa engkau
dari mana engkau datang
Hai orang bodoh!
Bila engkau tidak mengenal dirimu sendiri
Lantas, mengapa engkau membanggakan dirimu
tentang yang kau sebut ilmu pengetahuan?


Bukan Cinta yang Sejati

Sang burung terbang tinggi, sementara bayang-bayangnya meluncur di permukaan bumi, terbang seperti sang burung.
Orang dungu memburu bayang-bayang itu, berlari sampai kehabisan tenaga.
Tanpa mengetahui bahwa yang dikejarnya hanyalah pantulan dari sang burung di langit, tak menyadari sumber bayang-bayang.


Lagu keagamaan yang indah dan penuh harmoni dapat mengingatkan jiwa manusia kepada suara-suara yang pernah didengarnya di alam keabadian.

Mereka yang beriman berkata bahwa pengaruh dari
surga akan membuat setiap suara yang jelek menjadi indah
Kita semua adalah bagian Adam dan pernah mendengar
melodi-melodi tersebut di Surga
Meskipun air dan telah membungkus kita dengan keraguan,
kita masih ingat sesuatu dari suara-suara tersebut …
Suara dan lagu memperkuat gambaran dalam pikiran,
atau lebih dari itu, menjadikan gambaran-gambaran itu mempunyai bentuk.


Cinta memiliki kekuatan luar biasa dalam merubah kepribadian, perasaan dan pikiran manusia.

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan
Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan
Karena cinta Setan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus
Karena cinta sakit menjadi sehat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan


Dalam mencapai kebenaran tertinggi atau kebenaran agama, jalan Cinta lebih utama dibandingkan jalan Akal atau Pengetahuan.

.. Pencinta punya pelindung dalam pembuluh darahnya,
Pencinta sibuk membicarakan Cinta yang tak dapat dibandingkan.
Kata Akal, “Rukun iman yang lima perkara sudah mencukupi, tiada lagi jalan”
Cinta menjawab, “Ada sebuah jalan, berulang kali aku melaluinya!”
Akal melihat pasar, kemudian mulai berjualan
Cinta melihat ada banyak pasar di sebalik pasar akal.
Banyak al-Hallaj mereka temui di sana, mereka meyakini jiwa cinta
Dan menolak mimbar seraya memilih tiang gantungan
Pencinta yang faqir memiliki penglihatan hati penuh pesona
Orang yang hanya mengandalkan pada akal, hatinya gelap, semua disangkalnya
Akal berkata, “ Janganlah kakimu dijejakkan di situ,
Di halaman istana hanya duri yang tumbuh!”
Cinta berkata, “Duri-duri ini semuanya milik akal yang bersarang dalam dirimu!”
Wspadalah dan diam, buanglah duri kehidupan dari telapak kaki!
Supaya kau mendapat pelindung di dalam dirimu.
Shamsi Tabriz! Kaulah matahari dalam awan kata-kata;
Apabila matahari terbit, maka setiap kata pun sirna!


Kerinduan segala sesuatu kepada asal-usulnya atau permulaan kejadian dirinya bersifat kodrati.

Hasrat tubuh akan padang hijau dan air memancur
Terbit karena ia (Adam) berasal dari tempat itu (Taman Eden)
Kerinduan jiwa kepada Kehidupan dan Yang Maha Hidup
Terbit karena ia berasal dari Jiwa Abadi


Cinta Wanita

Dilihat secara lahir kaulah yang mengatur isterimu
Secara batin dia yang kauhasratkan yang mengaturmu.
Inilah kelebihan manusia: Cinta hewan tidak besar
Dan itu merupakan bukti bahwa martabatnya rendah.

Nabi pernah bersabda: Wanita mengungguli orang arif
Sedangkan lelaki sesat dapat mengalahkan wanita:
Sebab dalam diri lelaki yang sesat
Melekat kekejian seekor binatang buas.

Cinta dan kelembutan adalah sifat sejati manusia
Nafsu angkara adalah sifat binatang.
Wanita adalah seberkas sinar Ilahi: ia bukanlah
Kekasih para lelaki yang berwatak hewani
.
Wanita penuh daya cipta: Hanya saja kau
Menghina karena memandang sebaliknya.


Hawa Nafsu

Hawa nafsumu ialah ibu semua berhala:
Berhala benda ialah ular, berhala jiwa adalah ular naga.
Menghancurkan berhala itu mudah: Namun menganggap mudah
Mengalahkan hawa nafsu adalah tolol.

O Anakku, jika bentuk hawa nafsu ingin kaukenal
Bacalah uraian tentang Neraka dan tujuh pintunya.
Dari hawa nafsu setiap saat bermunculan ratusan tipu muslihat;
Dan dari setiap tipu muslihat seratus Fir`aun
Dan balanteranya terjerumus ke dalam jurang.


Mudah dan Sukar


Ketika kaumulai menaruh muatan di kapal, yakinlah bahaya pasti sedang melintang
Kau tak tahu apakah kapal akan karam atau selamat tiba di daratan
Jika kau berkata, “Tak mau aku berangkat sebelum pasti tentang nasibku.”
Maka kau takkan pergi berdagang: rahasia untung dan rugi takkan terungkap bagimu.
Pedagang yang berhati lemah takkan merasakan hikmah dari untung dan rugi
Malahan dia merugi: Seseorang harus menyalakan api agar memperoleh cahaya.
Karena semua kejadian berjalan di atas harapan, dan tujuan terbaik harapan ialah iman –
Maka hanya dengan Iman kau akan memperoleh keselamatan.


Tidak Lahir

Andai ada yang mengatakan kepada benih dalam rahim,
“Di luar sana ada sebuah dunia yang sangat teratur,
Sebuah dunia yang menyenangkan, luas,
Penuh kesenangan dan banyak makanan;

Gunung, lautan, lembah, taman-taman
Harum semerbak dan sawah ladang ada semua di sana;
Langitnya tinggi menjulang dan terang benderang pula;
Sinar matahari, cahaya bulan dan bintang-bintang tak tepermanai;

Keajaibannya tak dapat dilukiskan;
Namun mengapa kau mau tinggal
Dan minum darah dalam periuk
Yang kotor dan begitu gelap seperti ini?”

Benih, sebagaimana layaknya benih,
Tentu akan memalingkan muka, tak percaya;
Demikian perumpamaan orang buta
Ia tak punya khalayan dan angan-angan sama sekali

Begitu pula, apabila ada seorang arif di dunia ini
Menceritakan dunia yang bebas dari wewangian dan warna.
Tak akan ada satu orang bodoh pun mau mendengar
Mereka terhalang oleh hawa nafsunya sendiri.

Begitu pun dengan benih yang selalu haus akan darah
Sebab darahlah yang mengasuhnya di alam yang hina
Dan darah pula yang mencegahnya melihat dunia yang sebenarnya
Karena itu semenjak saat itu makanannya tak ada selain darah.


Kejahatan dalam Diri Kita

Singa pergi ke sumur untuk menangkap musuhnya
Mengikuti jejak Kelinci yang akan menunjukkan pesaingnya singa yang lain
Mereka lari kencang untuk menemui saingan si raja hutan .
Singa tak sadar musuh yang dilihatnya di sumur adalah bayang-bayangnya sendiri:
Dalam air tampak wajah seekor singa dengan kelinci gemuk di sampingnya
Tak berapa setelah ia mengamati musuhnya dengan teliti
Ia pun lupa kepada si kelinci yang berdiri di sampingnya
Singa melompat untuk menerkam pesaingnya di dalam sumur
Ia jatuh dan tenggelam dalam lubang yang dikhayalkannya sendiri:
Kejahatan dirinya yang telah menerkam dan menyergap kepalanya.
Pembaca, berapa banyak kejahatan kaulihat dalam diri orang lain
Padahal semua itu tak lebih adalah pantulan sifat-sifatmu sendiri!
Dalam diri orang lain sifat dan tabiat burukmu tampak dengan jelas
Kemunafikan, kejahatan dan kesombongan, semuanya.
Kau tidak senang melihat kejahatan yang ada dalam dirimu
Sebab jika demikian kau akan membenci dirimu sendiri.
Bagaikan singa yang menyergap bayangannya sendiri di sumur
Selama ini kau hanya menganiaya dirimu sendiri.
Apabila kau sampai ke lubuk perigi sifat-sifatmu sendiri
Kau akan tahu bahwa dosa pun banyak tersimpan dalam dirimu.


Lelaki dan Perempuan

Di jalan kebenaran pencinta tak mencari mencari apa yang tak dilihat oleh kekasihnya
Jika cahaya Cinta menerobos kalbu kita, artinya Cinta telah bersemayam di hati si dia
Bila Cinta Tuhan menyala dalam hatimu, tentu Tuhan telah mencintaimu
Suara tepukan tidak akan terdengar dari tangan yang bertepuk sebelah tangan
Tuhan telah menetapkan bahwa kita adalah pencinta satu dengan yang lain.
Karena ketentuan itulah setiap hal di muka bumi diberi pasangan
Di mata orang arif, Langit adalah lelaki dan Bumi adalah perempuan
Bumi menerima saja apa yang diturunkan Langit ke haribaan dan rahimnya
Jika bumi kurang panas, Langit mengirimkan panas
Jika bumi kurang segar, Langit menyegarkan bumi yang lembab
Langit berputar menurut sumbunya, bagaikan suami mencari nafkah bagi istrinya
Dan Bumi sibuk mengurus rumah: ia menunggui dan menyusui bayi yang dilahirkan
Perumpamaan Bumi dan Langit adalah seperti bakat dan kepandaian
Yang satu memerlukan yang lain untuk hidup dan maujud
Tanpa Bumi bagaimana kembang dan pepohonan berbunga?
Tanpa Bumi apakah Langit bisa menghasilkan air dan panas?
Ketika Tuhan meletakkan nafsu berahi ke dalam diri lelaki dan perempuan
Lihat, dunia telah berhasil diselamatkan oleh persatuan dari keduanya.
Begitulah Tuhan menanamkan keinginan dalam setiap bagian
Dari keberadaan demi bagian keberadaan yang lain
Siang dan Malam, dilihat dari luar saling bertentangan
Namun untuk mencapai tujuan yang satu, mereka saling membantu
Masing-masing saling mencinta untuk mencapai kesempurnaan
Mereka saling memerlukan agar kerja mereka sempurna
Tanpa Malam, hidup manusia tak akan membuahkan hasil, pun jika tanpa Siang.


Dia Tidak Di Tempat Lain

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.


Aku adalah Kehidupan Kekasihku

Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal diriku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Khurasan.
Aku bukan dari dunia ini ataupun dari akhirat, bukan dari Surga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Ridwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabuk oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabuk gila-gilaan
Kalau sekali saja aku seminit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabuk dan gila-gilaan.


Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu?”


Menyatu Dalam Cinta

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”


Kekasih

Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup
Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.


Hikmah Kesengsaraan

Lihatlah buncis dalam periuk,
betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan,
merintih terus-menerus tiada henti,
"Mengapa engkau letakkan api di bawahku? Engkau membeliku:
mengapa kini kau siksa aku seperti ini?
Sang isteri memukulnya dengan penyendok.
"Sekarang," katanya,
"Jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencianku;
sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat
dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup:
Kesengsaraan bukanlah penghinaan.
Ketika engkau masih hijau dan segar,
Engkau minum air di dalam kebun: air minum itu demi api ini.
Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada permukaan-Nya itu
Tujuannya bahwa dengan kasih-Nya engkau dapat menderita kesengsaraan.
Kasih-Nya yang mendahului permukaan-Nya itu
supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;
bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung membenarkannya,
berfirman, 'Sekarang engkau telah tercuci bersih dan keluarlah dari sungai.'
teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan sampai wujud
ataupun diri tak tersisa padamu lagi.
Jika engkau telah terputus dari taman bumi,
engkau akan menjadi makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.
Jadilah gizi, energi, dan pikiran! engkau menjadi air bersusu:
kini jadilah singa hutan!
Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-sifat Tuhan:
kembalilah kepada Sifat-sifat-Nya!
Engkau menjadi bagian dari awan, matahari dan bintang-bintang:
engkau kan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan pikiran.
Kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan:
maka perintah, 'bunuhlah aku, wahai para teman setia,' adalah benar.
Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata,
"lihatlah karena dibunuh aku hidup,' adalah benar."


Pengendalian Ego Imam Ali as

Belajarlah dari Ali bagaimana berperang
tanpa melibatkan ego sedikit pun di dalamnya.
Singa Allah tidak melakukan apa pun,
yang tidak bergerak bangun dari pusatnya,
yang berada jauh di dalam.

Pernah dalam suatu pertempuran,
Ali berhasil menjatuhkan seorang ksatria terbaik,
Lalu Ali menarik pedangnya,
Sang ksatria yang tak berdaya di atas permukaan tanah meludahi wajah Ali,
Ali menjatuhkan pedangnya lalu membantunya di bawah kakinya,
“Mengapa engkau tidak membunuhku?”
“Mengapa sinar terang berbalik kembali ke dalam kabutnya?
Berbicaralah, junjunganku, agar jiwaku mulai bergerak
dalam diriku bagai embrio.” (tanya si ksatria musuh Ali)

Ali diam membisu, lalu tiba-tiba menjawab,
“Aku adalah singa Allah, bukan singa hawa nafsu,
Allah-lah Tuhanku, aku tidak merindukan apa pun
selain Yang Mahaesa.
Ketika hembusan angin reaksi ego muncul,
Aku tidak terseret dalam gerakannya,
Ada banyak hembusan angin
yang penuh diliputi amarah, nafsu dan hasrat.
Tiupan angin tersebut menerbangkan sampah kotoran,
berhamburan ke sana ke mari.
Namun gunung kokoh di alam sejati,
bergeming sedikit pun dari tempatnya.

Kini tak ada yang tersisa selain sifat-sifat Allah.
datang dan masuklah ke dalam diriku
melalui jendela terbuka itu.

Kelancanganmu jauh lebih baik daripada
bentuk penghormatan apa pun,
karena saat ini aku adalah engkau dan engkau adalah aku.
Kuberikan hati yang terbuka ini,
Sebagaimana Allah memberikan rahmat dan berkah-Nya,
racun air ludahmu telah berubah menjadi madu persahabatan”
(Matsnawi, I : 3721-3750,3764,3771,3773, 3782, 3787, 3796, 3798, 3825, 3830, 3832, 3841, 3844)



Cinta
I.
Cinta mengubah kepahitan menjadi manis
tanah dan tembaga menjadi emas
yang keruh menjadi jernih
si pesakitan menjadi sembuh
penjara menjadi taman
derita menjadi nikmat
kekerasan menjadi kasih sayang

II.
Cintalah yang telah melunakkan besi
mencairkan batu
membangkitkan yang mati
meniupkan kehidupan pada jasad tak bernyawa
mengangkat hamba menjadi sang majikan

III.
Cinta bagaikan sayap
dengannya manusia terbang di angkasa
menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan
menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh
Cinta berjalan di gunung
maka gunungpun bergoyang menari

IV.
Cinta itu kekayaan sejati
takkan bersatu dengannya
singgasana raja dan sultan
siapa yang telah mencicipi
takkan ada lagi anggur yang melebihi
Cinta adalah raja diraja
kekuasaan rajapun bersujud di hadapannya
sultan dan khalifah menjadi budaknya

V.
Cinta bagaikan penyakit tanpa obat
setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya
dengan suka cita mereka berharap
kepedihan dan derita dilipatgandakan
Takkan ada minuman di dunia
yang manisnya melebihi racun ini
Takkan ada lagi kesehatan di dunia
yang lebih baik dari penyakit ini
Cinta memanglah penyakit
tetapi, penyakit yang menyembuhkan semua penyakit
siapa saja yang pernah mengidapnya
takkan pernah lagi menderita penyakit lain

VI.
Cinta adalah warisan Sang Adam
sedangkan kecerdikan itu barang dagangan syetan
tempat si cerdik dan bijaksana bersandar pada jiwa dan akalnya
Cinta berarti penyerahan diri
karena akal bagaikan seorang perenang
yang terkadang sampai ke tepian
sering juga tenggelam di tengah jalan
Tak sebanding dengan Cinta ini
ibarat bahtera Nuh yang terselamatkan

VII.
Tidak setiap kita berhak dicintai
karena syarat dicintai adalah akhlak dan keutamaan
namun ambil bagianmu sebagai pecinta dan nikmatillah
Jika dirimu tidak menjadi yang dicintai
maka jadilah yang mencintai


Cinta tak butuh lidah dan pena

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
Cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!


Menangislah!

Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir

Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”

Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung

Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya

Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya

Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan

Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti

Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis

Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar

Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu
karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu

Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur
Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur

Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu
Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!

Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu
Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu

Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu
Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu

Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji
Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi

Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian
Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan


Hari kesyahidan Imam Husain as (Asyura)

“Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad?
Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang Mukmin hakiki?
Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw).
Dalam pandangan Mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh.” (Buku Keenam, bait 790-92.)


(Dari berbagai sumber: terjemahan Abdul Hadi W. M., dll)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar