03 Oktober 2009

Gradasi Budaya Jawa



Seberapa jauh kita mengenal sejarah kita? sebuah pertanyaan simple untuk para pembaca semuanya. masih ingatkah anda tentang samudera pasai , tentang gajah mada dan majapahit yang merupakan kerajaan besr kala itu, atau lebih kedepan lagi, ingatkah anda dengan Sumpah Pemuda , Dekrit Presiden 59, angkatan 66, Pemberontakan PKI dll. mungkin generasi tahun 80 an orang masih ingat tentang Kerajaan Kerajaan semacam syailendra, mataram, kediri, singasari dan majapahit, kemudian generasi Tahun 90 an sedikit “berkurang” daya ingatnya hingga hanya mampu menginggat era era Orde lama dan pra kemerdekaan. dan sekarang Generasi Muda Mungkin hanya ingat Sekitar 5 Tahun belakangan ini saja atau bahkan mungkin lebih sedikit dari itu. Ini pertanda memang kita tidak pernah serius membangun sebuah bangsa yang memang menghargai sejarahnya.

Sebuah bangsa yang besar yang tidak paham akan kebesaran bangsanya. bangsa yang diberi rahmat oleh Tuhan tapi tidak merubahnya menjadi sebuah barokah untuk rakyatnya.Menengok kebelakang sebenarnya Indonesia adalah sebuah bangsa yang memang benar benar “besar”. Anda pernah mendengar tentang sebuah peradaban Atlantis dan Lemuria. Atlantis adalah peradaban 12 ribu tahun yang lalu. yang tingkat peradabannya memang luarbiasa. Peradaban mutakhir yang akhirnya tenggelam oleh Glester Es dan ada yang menyebutkan pula tenggelam karena banjir NUH. Seorang Profesor dari Brasil (Aryso Santos) sudah melakukan penelitian selama 30 tahun menyebutkan Peradaban Atlantis adalah Indonesia Hal ini disebutkan dalam bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Locazation of Plato’s Lost Civilization (2005). Dalam buku tersebut disebutkan Luas Wilayah, Cuaca, Gunung berapi, sistem pertanian menyimpulkan kalau atlantis adalah Indonesia. Peradaban yang mungkin masih menjadi sebuah pertanyaan besar apakah benar ada atau tidak, tapi terlepas dari keberadaan ada atau tidaknya peradaban tersebut wilayah indonesia sudah membuktikan kalau memang Indonesia adalah Surga.

Kita memang tidak pernah sadar kalau kita adalah negeri besar, negeri yang secara geologis terletak di terletak diantara dua lempeng Eurasia dan Lempeng Indo Australia, mempunyai banyak sekali budaya dan bahasa, dan semakin banyak bahasa akan semakin tua peradaban itu. Seorang cendekiawan india Menulis tentang adanya kerajaan dwipantra atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau jawa dan sumatera pada 200 SM.

Bayangkan berapa tuanya sebenarnya sejarah republik ini. Negeri yang pemerintahnya tidak pernah mau sedikitpun menengok kebalakang dan bercermin tentang kebesaran bangsa ini. Pemerintah yang cuek saja ketika Tempe nya di klaim jepang, kemudian batik dan lagu rasa sayange di klaim saudara serumpun kita malaysia. bukan hanya Negeri asing yang mengambil kebudayaan asli kita, pemerintah sendiri ikut serta memusnahkannya.

Saya sendiri sebagai orang Indonesia dan lahir di Jawa merasa miris akan perkembangan kebudayaan jawa itu sendiri, jika kita ambil contoh bahwa generasi penerus yang usianya relatif muda sudah banyak yang kurang mengenal kebudayaan Jawa itu sendiri, baik dari Seni tari, seni musik, pakaian adat bahkan untuk cerita wayang sendiri hampir sepenuhnya dilupakan oleh generasi penerus bangsa. Akan sangat disayangkan jika beberapa tahun mendatang jika kita ingin belajar kebudayaan Jawa dan Indonesia kita harus pergi sekolah sampe ke luar negeri dulu, karena orang-orang asing yang notabene bukan penduduk asli malah lebih tertarik akan budaya kita. Tidak bisa dipungkiri, Budaya Jawa sebagai warisan leluhur telah banyak dilupakan bahkan ditinggalkan oleh orang Jawa asli yang sarat dengan budaya itu. Siapa yang salah, bilamana budaya adiluhung itu jatuh ke tangan ‘pemeluk’ lain?

Mengapa mereka melakukan ini semua? Apa mereka hanya sekedar mengejar gengsi? Apa mereka hanya karena latah? Atau apakah karena budaya jawa sudah tak layak dipertahankan lagi dalam kehidupan seperti keadaan zaman sekarang?

Sebagai orang Jawa saya sangat sedih melihat keadaan seperti sekarang ini. Saya sedih melihat anak-anak muda yang pola hidupnya sudah seperti bule, seperti orang arab dan seperti orang-orang asing lainnya. Saya sedih melihat siswa-siswi kita tidak dapat berbicara Krama Inggil dengan gurunya, anak tidak dapat berbahasa krama inggil dengan orang tuanya, dan saya sedih melihat pakaian, gamelan dan piranti-piranti wong Jawa ditinggalkan begitu saja.

Pertanyaanya "Relakah kita kehilangan jatidiri kita"?

Harapan saya, mulai sekarang ada banyak pihak yang mulai memikirkan tentang kelestarian adat dan budaya Jawa. Kapan pemerintah lebih serius memikirkan pelestarian budaya Jawa melalui kurikulum sekolah? Kapan dunia pertelevisian mau mengangkat dan mengembangkan seni dan budaya Jawa?

Kita harus membangkitkan semangat serta kesadaran kita untuk mempertahankan warisan nenek moyang kita, jangan sampai kita menjadi bangsa asing di tanah Jawa ini. Jangan sampai nantinya kita belajar tentang budaya Jawa dari orang Asing.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membangkitkan kembali kesadaran kita sebagai orang Jawa yang harus senantiasa peduli terhadap apa yang kita miliki.

Bangsa Jawa adalah bangsa yang besar dan punya pengaruh luar biasa di seluruh penjuru dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar