23 Oktober 2009

Bintang Jatuh

Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari kerajaan bidadari
sang Puteri naik kelangit
Ksatria Kebingungan
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang
tapi tidak tahu caranya terbang
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu
tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon
Ksatria lalu belajar pada burung gereja
burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai keatas menara
Ksatria kemudian berguru pada burung elang
burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung
tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi
Ksatria sedih, tapi tak putus asa
Ksatria memohon pada angin
angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi
lebih tinggi dari gunung dan awan
namun sang Puteri masih jauh di awang-awang
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa
sampai satu malam ada Bintang Jatuh
yang berhenti mendengar tangis dukanya
ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya
melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu
namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya
maka ia akan mati, hancur dalam kecepatan yang membahayakan
menjadi serbuk yang membedaki langit dan tamat
Ksatria setuju, ia relakan seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh
menjadi sebuah nyawa, dan ia relakan nyawa itu bergantung
hanya pada serpih detik yang mematikan
Bintang Jatuh menggenggam tangannya
"inilah perjalanan sebuah cinta sejati", ia berbisik
"tutuplah matamu, Ksatria. katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan
keberadaannya"
melesatlah mereka berdua
dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil
namun hangat hatinya diterangi rasa cinta
dan ia merasakannya, "berhenti"
Bintang Jatuh melongok kebawah
dan ia pun melihat sesosok Puteri cantik yang kesepian
bersinar bagaikan Orion ditengah kelamnya galaksi
ia pun jatuh hati
dilepaskannya genggaman itu
sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya
Ksatria melesat menuju kehancuran
sementara sang Bintang mendarat turun
untuk dapatkan sang Puteri
Ksatria yang malang
sebagai balasannya dilangit kutub dilukiskan Aurora
untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.......................

Ada Pangeran. Ada Putri. Dan ada Bintang Jatuh.
Pangeran bungsu dari kerajaan langit; bukan sang Putri.
Putri sulung dari galaksi tak bernama; bukan sang Ksatria.
Bintang Jatuh yang telah lewati banyak hal tak pasti; pun ini.

Hmm ... ini cerita yang berbeda.
Tidak. Tidak akan seperti Supernova.

Tokoh utamanya bukan si Pangeran, ia terlalu rapuh.
Bukan pula si Putri, ia terlalu gaduh.
Biar sajalah ini tentang si Bintang Jatuh.

Bintang Jatuh yang akan kubuat terus melesat.
Tak apa sempat tertatih, oleng, atau tersendat.
Tapi teruslah melesat,
tak usah mendarat,
tak usah menjerat,
tak usah jadi keparat.

Mungkin sisamu hanya kumpulan debu.
Namun, takkan teringkari, senantiasa indah dan syahdu.
Apalagi jika kita ingat banyaknya harapan, meski semu,
yang kau tinggalkan bagi para bodoh itu.

Tak apa kau sendiri, itu membuatmu mengerti.
Tak apa kau terluka, kelak akan terbiasa.

Melesatlah kembali.
Bersinar, berpijar, lewati ordinat tak terprediksi.
Semesta takkan sama tanpamu.
Tanpa perlu mereka mengaku.
Tanpa perlu kau tau.

Aku disini. Akan terus disini. Mengawasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar